Kamis, 02 Juli 2009

Tanaman Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis guinensis) adalah salah satu jenis tanaman paku yang menghasilkan salah satu jenis minyak nabati yang berasal dari benua Afrika. Klasifikasi botani kelapa sawit adalah Ordo : Palmales, Familia : Palmaceae,Sub-famili : Palminae, Genus : Elaeis, Spesies: Elaeis guinensis
Jenis kelapa sawit digolongkan berdasarkan warna buah dan tebal cangkang. Dari tebal cangkang dibagi atas 3 (tiga) jenis, yaitu :
Dura adalah jenis varietas kelapa sawit yang mempunyai buah yang agak bulat, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
v Tebal buah daging (pericarp) : 2 – 6 mm
v Tebal cangkang : 2 – 5 mm
v % pericarp terhadap buah : 50 – 70 %
v % inti terhadap buah : 8 – 10 %
Pesifera adalah jenis varietas kelapa sawit yang mempunyai buah agak lonjong, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
v Tebal buah daging (pericarp) : Sangat tebal
v Tebal cangkang : 0 – 0,1 mm
v % pericarp terhadap buah : 95 – 100 %
v % inti terhadap buah : 0 – 5 %
Tenera adalah jenis varietas kelapa sawit yang mempunyai buah agak lonjong, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
v Tebal buah daging (pericarp) : 4 – 10 mm
v Tebal cangkang : 79 – 80 mm
v % pericarp terhadap buah : ± 10 %
v % inti terhadap buah : 8 – 10 %

Sedangkan menurut warna dikenal tiga jenis kelapa sawit yaitu : Nigrescens, Virescens dan Albescens. Dalam pengolahan kelapa sawit diinginkan varietes kelapa sawit yang unggul dengan kandungan minyak yang tinggi.
Pada dasarnya buah kelapa sawit disebut brondolan mempunyai dua komponen dasar yaitu pericarp dan endocarp. Pericarp terdiri dari eksocarp (kulit buah) dan mesocarp (daging buah). Pembentukan buah sawit terjadi karena adanya penyerbukan buah betina oleh buah jantan. Dalam satu pohon terdapat bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah dan masaknya tidak bersamaan. Pada tandanan norma bunga betina yang keras sebagaian besar terbuka menjelang matahari terbit, sehingga terbuka kepala putik yang terbagi atas tiga bagian yang diliputi oleh bulu-bulu. Penyerbukan terjadi pada saat bunga betina membesar, dan pembuahan terjadi dengan dua cara yaitu secara alami dan secara buatan/bantuan. Secara alami terjadi karena bunga jantan terbawa oleh angin dan menempel pada bunga betina, sedangkan cara buatan adalah diserbukkan dengan bantuan manusia dan dengan bantuan serangga penyerbukan kelapa sawit.
Penyerbukan buatan dengan bantuan serangga membutuhkan biaya yang mahal dan kurang efektif dan penyerbukan secara alami tidak mebutuhkan biaya akan tetapi penyerbukan tidak efektif. Penyerbukan dengan bantuan penyerbuk kelapa sawit yaitu dengan Elaeisdubuius hamerunicus biaya yang dibuthkan murah dan efektif, pembuahan sangat meningkat, bobot tandan meningkat dan produksi tandan buah sawit juga meningkat.
Keburukan dari cara ini buah sangat rapat sehingga menyulitkan pada saat perebusan. Buah akan masak setelah 5,5 bulan setelah penyerbukan. Buah dikatakan masak bila disenggol dengan jari akan lepas, buah yang sudak membrodol jatuh ditanah agak kelewat masak disebut loss fruit (brondolan). Derajat kematangan erat hubungannya dengan jumlah kandungan minyak yang terdapat dalam buah, jika dalam satu tandan terdapat buah yang membrondol sempurna maka pembutukan minyak buah tersebut dikatan matang. Akan tetapi pengertian matang bukan hanya dasar minyak tetapi juga keadaan proses yang terjadi dalam tandan. Yang dimaksud dengan mtang adalah bila dalam tandan telah terjadi proses hidrolisis pektan yang menyebabkan buah lepas.
Pengolahan minyak kelapa sawit menghendaki mutu yang baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Salah satu cara untuk mencapi tujuan tersebut adalah dengan memanen buah yang sudah masak. Oleh karena itu perlu adanya standat kematangan buah yang akan menjadi pedoman bagi pemanen. Sebagai standart harus mudah dipahami bagian lapangan/kebun dan pemasok bahan baku lainnya dengan pabrik.
Bila memanen buah yang belum matang akan banyak kehilangan minyak. Sebaliknya memanen yang terlambat akan menurunkan mutu minyak. Yang dimaksud dengan mutu minyak yang baik adalah kadar asam lemak bebas yang rendah dan rendemen yang tinggi.

2.1 Kerusakan Bahan Baku
Kerusakan bahan baku dapat juga terjadi selama panen dan selama masa pasca panen. Kerusakan dapat berupa trash (kotoran dan sampah), memarnya buah, buah mentah dan busuk serta buah yang layu. Kerusakan bahan baku secara kualitas dan kuantitas sangat merugikan sehingga, kerusakan harus ditekan seminimal mungkin.

2.1.1 Pengaruh Trash Terhadap Mutu CPO
Trash adalah bagian bahan baku yang tidak mengandung minyak bahkan memperbesar kehilangan minyak pengolahan. Trash dapat berupa tandan busuk, tandan mandul, sisa tangkai, daun, pasir, buah atau tandan yang masih mentah. Trash dapat terjadi selama panen dan pasca panen. Pengaruh trash pada pengolahan minyak sawit adalah :
Merendahkan kualitas CPO, karena komponen trash bertindak sebagai emulsifer dalam emulsi.
Menambah jumlah limbah.
Menurunkan produksi CPO (menurunkan kapasitas pabrik dan memperbesar kehilangan minyak).

2.1.2 Pengaruh Buah Memar.
Buah memar terjadi selama transportasi buah pada saat buah diisikan kedalam alat angkut selama dalam perjalanan dan saat pembongkaran. Untuk mempertahankan kualiatas minyak dalam pengolahan perlu diatur bahwa buah yang pertama diterima harus diolah terlebih dahulu.
Buah kelapa sawit yang sudah matang dan segar mengandung 0,1 % asam lemak bebas. Tetapi buah yang sudah memar atau pecah akan mengandung asam lemak bebas sampai 50 %, hanya dalam waktu beberapa jam saja. Bila tanpa perlakuan khusus dalam 24 jam kadar asam lemak bebas dapat mencapai 67 %. Untuk membatasi terbentuknya asam lemak bebas buah kelapa sawit harus segera dipanasi dengan suhu antara 90 – 100 0C, denga cara ini asam lemak bebas yang terbentuk akan lebih sedikit.

2.1.3 Pengaruh Buah Matang Dan Busuk
Buah yang masih mudah dan setengah dewasa sedikit mengandung minyak. Buah yang sangat matang sangat kurang mengandung minyak dibandingkan yang sudah matang. Pada buah yang dipetik mudah, yang diperam juga terjadi pembentukan minyak. Menurut J. Santoso (1992), tandan segar (TBS) yang telah rentang mengandung.
v Persentase Non Oil Solid (NOS) sehingga minyak rendah
v Rendemen minyak rendah atau produksi CPO rendah
v Pemisahan NOS dengan minyak sulit sehingga mutu CPO rendah.
v NOS memperbesar kehilangan minyak sehingga menurunkan efisiensi.

2.1.4 Pengaruh Bahan Baku Minyak Kelapa Sawit
Minyak terbentuk sebagai tetesan-tetesan kecil didalam sel-sel daging buah selama pertumbuhan buah kelapa sawit. Kemudian sebagian lagi bersatu menjadi tetesan yang lebih besar. Tetesan ini berada di dalam sel secara terpisah. Tetesan ini tidak dapat secara langsung berhubungan dengan bagian-bagian lain yang tergantung di dalam sel tersebut. Di dalam buah yang mutunya kurang baik tidak ditemukan gejala-gejala penguraian minyak. Buah kelapa sawit mengandung enzim lipase yang sangat aktif sehingga dapat memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol, bila struktur sel buah matang tersebut rusak.

2.2. Cara Penanganan Terhadap Kerusakan Bahan Baku
Pengolahan kelapa sawit menghendaki minyak yang baik secara kualitas dan kuantitas. Agar keinginan tersebut tercapai haruslah dicegah hal yang menyebabkan menurunnya mutu minyak.
Pada pemuatan brondolan dan buah kendor yang membrondol setelah dipetik dikumpulkan secara hati-hati. Sisa pelepah penyanggah tandah haruslah minimum dan buah yang tertahan pada batang harus diambil. Pohon harus bersih dari pakis dan saprofit lainnya. Kebersihan kebuh harus terjaga, tempat jatuhnya tandan pada piringan diberi alas. Trash harus disingkirkan dari tandan buah yang akan dioleh, analisa dapat dilakukan di Loading Ramp.
Mencegah kememaran dapat dilakukan pada saat panen dan pasca panen. Apabila buah terlanjur memar maka akan segera diolah, direbus, kecepatan perebusan ini akan menanggulangi kerusakan yang terjadi.

2.4. Minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil = CPO)
CPO adalah hasil olahan buah kelapa sawit, dimana CPO tersebut dapat diproses kembali menjadi beberapa bagian jenis minyak, antara lain :
Crude Olein
CPO
Crude Stearin
Minyak kelapa sawit yang dihasilkan dari kelapa sawit ada dua macam, yaitu :
Minyak sawit (CPO = Crude Palm Oil) yang diperoleh dari daging buah.
Minyak inti sawit yang diperoleh dari inti sawit.
CPO yang dihasilkan dari PKS RSPOM ini merupakan bahan baku dari industri hilir seperti industri sabun, kosmetik, minyak pelumas dan merupakan hal penting pada industri baja, sebagai fin plating dan juga untuk margarin yang kaya akan vitamin A, D, E dan K.
Di Sumatera Utara sekarang ini banyak industri yang mengolah CPO (Crude Palm Oil) menjadi minyak goreng yang langsung dapat digunakan konsumen

TRANSLATE THIS BLOG

Labels